logo


Berproses Diri atau Sekedar Memperoleh Gelar dan Ijazah?

15 September 2018 - 19:59:16 WIB - Penulis : Redaksi

ILUSTRASI.(Istimewa)


Pertanyaan tersebut mungkin dianggap tabu bagi sebagian orang. Berproses diri merupakan tujuan dari pendidikan, sedangkan gelar dan ijazah diberikan jika seseorang telah menyelesaikan proses belajarnya tersebut. Lantas apakah maksud dari pertanyaan tersebut? Bukankah ketiganya akan sama-sama didapat bagi seseorang dalam dunia pendidikan?


    Pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Sedangkan Mochtar Buchori (1994:54) menyatakan bahwa pendidikan yaitu proses pemupukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk mewujudkan segenap potensi yang ada dalam diri seseorang.Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa, pendidikan merupakan proses perubahan tingkah laku seseorang yang dilakukan secara sengaja dan terencana guna mengubah perilaku dan pola pikir menuju arah yang lebih baik, ditinjau dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik.


    Pertama, jika pendidikan hanya ditujukan untuk memperoleh gelar sedangkan berproses diri dikesampingkan, maka akan menimbulkan dampak negatif bagi pendidikan di Indonesia. Plagiarisme merupakan salah satu sikap yang timbul akibat bobroknya sikap percaya diri, dan bertanggungjawab terhadap karyanya. Plagiarisme mencerminkan karakteristik seseorang yang tidak bertanggungjawab. Pelaku plagiarisme ini hanya mengejar gelar atau posisi yang mengutamakan kemampuan kognitif. Plagiat bukan hanya dilakukan oleh peserta didik saja, bahkan seseorang yang hendak memperoleh gelar profesor dan jabatan sebagai rektor pun harus gigit jari akibat ketahuan melakukan plagiat. Bukankah jika ingin mendapatkan segala sesuatu perlu proses? Dan proses tidak ada yang praktis, perlu usaha dan pertanggungjawaban untuk mendapatkannya.


    Kedua, jika pendidikan dilakukan hanya untuk memperoleh ijazah saja, juga akan menimbulkan dampak negatif bagi pendidikan di Indonesia. Tujuan utama pendidikan dianggap tercapai jika telah memiliki ijazah. Padahal anggapan ini benar-benar salah kaprah. Pandangan jika pendidikan hanya untuk memiliki ijazah inilah merupakan pandangan yang paling buruk. Tak jarang jika banyak manusia yang menginginkannya dengan melakukan tindakan-tindakan yang mengingkari hukum. Ijazah bukan lagi dianggap penghargaan apabila seseorang telah mencapai tujuan pendidikannya, yaitu berproses diri menjadi lebih baik lagi. Ijazah baginya bisa didapatkan tanpa harus melalui proses yang berarti, namun hanya dengan kepraktisan belaka.


    Ketiga, jika pendidikan dianggap sarana untuk berproses diri, maka semuanya akan berjalan beriringan. Berproses diri yang dimaksud di sini bukan hanya bagaimana meningkatkan kemampuan di bidang kognitif, namun juga tetap mengutamakan kemampuan afektif dan psikomotor. Berproses diri merupakan tujuan sesungguhnya dalam pendidikan.
Untuk meminimalisir kemungkinan berproses diri, gelar dan ijazah tersebut dipisahkan, pemerintah telah melakukan beberapa cara. Pada saat ini, pemerintah menerapkan kebijakan berupa penggunaan kurikulum 2013 bagi sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Pergantian kurikulum bukan bertujuan menghapuskan kebijakan lama untuk digantikan dengan kebijakan  baru. Lebih dari itu, kurikulum disesuaikan oleh kondisi dan situasi dunia pendidikan yang terjadi saat ini, khususnya di Indonesia. Kurikulum sebelumnya yang dianggap memiliki kelemahan, sehingga dibutuhkan revitalisasi dari segi kekurangannya, untuk difokuskan dalam kurikulum yang baru. Tujuan diterapkannya kurikulum 2013 ini yaitu untuk membentuk karakteristik peserta didik yang bermoral sejak dini.


    Dalam kurikulum 2013, pembentukan karakter menjadi prioritas utama. Mengapa? karena di era modern saat ini, banyak peserta didik yang lebih mengutamakan kemampuan kognitif mereka disamping afektif dan psikomotor. Kemampuan afektif berkenaan dengan sikap, dan tingkah laku peserta didik dalam menjalani kehidupan sehari-hari di sekolah, baik dalam mata pelajaran, antar mata pelajaran, maupun tingkah laku peserta didik dalam kehidupan bersosial. Sedangkan kemampuan kognitif berkenaan dengan pengetahuan peserta didik, dan kemampuan psikomotor berkenaan dengan keterampilan peserta didik dalam menerapkan pengetahuan yang dimilikinya.


Berproses diri, gelar dan ijazah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya akan tercapai jika manusia Indonesia memiliki karakter yang bermoral dan bertanggungjawab terhadap dirinya. Pendidikan untuk berproses diri, sementara gelar dan ijazah merupakan penghargaan jika telah mencapai tujuan tersebut. Itulah makna pendidikan yang sesungguhnya.


Dewi Yunita Anggraini, Lahir di Sarolangun Bangko, 26 Juni 1998. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dn Sastra Indonesia Universitas Jambi.

Tag:

Komentar

×
×