logo


Ikat Kepala Melayu Jambi Bukan Hanya Tanjak & Lacak

23 April 2017 - 11:54:40 WIB - Penulis : Redaksi

Gubernur Jambi yang mempopulerkan ikat kepala melayu Jambi. (istimewa)


Judika Raja Gukguk

Pakaian bukanlah hal yang asing bagi kita. Sebagai manusia moderen, setiap harinya kita selalu menggunakan pakaian yang telah menjadi kebutuhan pokok manusia. Pakaian digunakan sebagai pelindung dan penutup tubuh. Pakaian mengalami perubahan sosial dan kebudayaan. Pakaian tidak lagi hanya mengandung fungsi dan tujuan sebagai terapan (applied). Namun, kini, pakain juga turut sebagai simbol status, jabatan dan kedudukan si pemakainya serta menjadi ciri khas dan representatif adat istiadat suatu daerah.

Masyarakat Provinsi Jambi memiliki pakaian adat yang bernama Pakaian Adat Melayu Jambi. Pada umumnya atribut Pakaian Adat Melayu Jambi terdiri dari ikat kepala, baju atasan, terusan dan aksesoris lainnya seperti selendang/ salempang. Pakaian Adat Melayu Jambi lengkap lebih sering digunakan pada acara-acara tertentu, misalnya yang paling menonjol adalah pada acara adat pernikahan.

Namun, fenomena unik terjadi di tanah melayu Jambi. Fenomena yang muncul dengan aroma kearifan lokal, yaitu salah satu atribut pakaian adat Jambi menjadi ihwal mode warga Jambi pada kesehariannya, yaitu ikat kepala.

Dra Nurlaini, petugas di Museum Siginjai Provinsi Jambi mengungkapkan ikat kepala melayu Jambi bukan hanya Tanjak dan Lacak. Secara adat, ikat kepala ini memiliki nama dan makna yang berbeda, seturut dengan sukunya masing-masing, yaitu:

1. Suku Melayu Kerinci

Masyarakat suku ini biasa menyebutnya Sungkuk (Songkout). Sering juga disebut Tuguk atau Slouk/Lita. Songkout terbuat dari selembar kain batik/songket, berbentuk segi empat berwarna biru dongker, merah maroon, kuning dan hijau disertai motif keluk pakis dan relung kangkung. Bulatan ikat kepala yang diterapkan pada Songkout dikenal dengan istilah balito babalit panco yaitu ikat kepala yang bulat berbelit dan bagian atas seperti kayu yang dipacung. Songkout seperti ini mengandung makna tanda kebenaran atau kebesaran. Penyebarannya berada di Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Batanghari sebagian.

Salah satu ikat kepala lelaki Kerinci

2. Suku Melayu Bhatin

Ikat kepala di suku ini dikenal dengan sebutan deto/destar yang terbuat dari kain batik warna biru tua, dengan motif bunga melati dan juga ada yang bermotif tulisan Arab. Ikat kepala yang bertuliskan aksara Arab ini dipakai oleh pemuka adat/alim ulama disebut dengan Deta Kepak Ayam Patah Tegak Petang dan Daun Buluh Tercacah ke Lumpur. Deta ini melambangkan kearifan lokal. Tersebar di Kabupaten Sarolangun, Merangin, Tebo, Muaro Bungo, Batanghari dan Muaro Jambi.

3. Suku Melayu Jambi

Sebagian menyebutnya Tanjak tetapi lebih sering menggunakan kata Lacak. Bahannya terbuat dari kain songket warna merah dan batik warna biru tua dan merah maroon bermotif fatola yang berbentuk kepak ayam patah. Ini melambangkan kepemimpinan yang dilakukan oleh seorang pria dalam kehidupan berumah tangga. Ia berperan melindungi dan memelihara serta meyakinkan masyarakat menuju kesempurnaan serta kesenangan hidup bersama. Lacak tersebar di Kota Jambi, Batanghari dan Muaro Jambi.

4. Suku Melayu Pantai Timur.

Ikat kepalanya dinamai lacak yang biasa digunakan untuk pakaian pengantin. Tetapi untuk pemuka masyarakat/adat lebih sering disebut tanjak. Tanjak adalah ikat kepala yang terbuat dari kain batik/songket warna merah. Bagian depan tanjak dibentuk seperti bambu terpancung dan bagian belakang terdapat kepak ayam patah. Tersirat makna bahwa jika mendapatkan kedudukan tinggi, janganlah berlaku angkuh, jika berada diatas jangan lupa memandang ke bawah, artinya jika menjadi pemimpin janganlah membuat orang lain benci atau menjauhkan diri dari kita. Ikat kepala ini terdapat di Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur.

Pemberian nama yang berbeda bukanlah penghalang bagi ikat kepala untuk semakin berjaya. Seakan tidak ingin kehilangan momentum, maka diadakanlah pemusyawaratan mengenai penyebutan ikat kepala secara umum. Pemusyawaratan ini diadakan di salah satu ruang di gedung kantor gubernur bersama Ninik Mamak. Mufakat yang terlahir dari musyawarah tersebut adalah bahwa ikat kepala yang berasal dari Provinsi Jambi disebut Lacak.

Idealnya, penyebutan ikat kepala seturut dengan sukunya masing-masing seperti Songkout, Deta dan Tanjak. Setiap suku dan daerah harusnya mempopulerkan nama-nama ikat kepalanya masing-masing, bukan ikut-ikutan menyebutnya Tanjak atau Lacak. Bangga dengan identitas masing-masing dan menjaga kelestarian tradisi masing-masing.

Ikat kepala melayu ini sudah diperkenalkan secara nasional telah dikreasikan dan dimodifikasi, baik itu tanjak dan lacak. Sehingga fleksibel dan tidak menyalahi aturan adat jika dipakai dalam keseharian.

“Lacak dan Tanjak menjadi mode gaya di kalangan masyarakat Jambi karena dipopulerkan oleh Gubernur Jambi Zumi Zola. Saya berharap siapapun nanti gubernurnya ikat kepala melayu tidak ditinggalkan, namun tetap dipakai agar hal ini tidak menjadi fenomena sesaat saja. Semoga juga menjadi penyuntik semangat baru masyarakat Jambi untuk mempelajari apa yang dikenakannya atau bahkan mempelajari Jambi itu sendiri," harap Dra Nurlaini, yang sudah belasan tahun bertugas di Museum ini.

Tanjak & Lacak ini telah menjadi idola baru di masyarakat Jambi. Namun diharapkan masyarakat tidak hanya memakai saja, tetapi turut mencari tahu rahasia penting dibalik ikat kepala melayu Jambi itu. Sehingga si pemakai kenal betul terhadap apa yang melekat padanya. Semoga kehadiran lacak meregenerasi cinta warga tanah melayu Jambi terhadap negerinya dan membawa nama Jambi semakin dikenal, baik secara nasional maupun internasional.

 

Komentar

×
×