logo


Tengkuluk Jambi, Masih Eksis Kah?

25 Maret 2018 - 15:05:15 WIB - Penulis : Redaksi

ILUSTRASI.(Istimewa)


Gita Savana .N

 

Pagi hari yang cerah ini membuatku tergelitik untuk melihat dan membuka kembali memori lama, geser ke atas ke bawah, lalu, hap! Dapat kumpulan foto-foto ketika sedang OPAK a.k.a OSPEK sewaktu jadi mahasiswa baru dulu. Kalau di UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, dulu sewaktu saya masih jadi Maru, masih bernama IAIN. Ospek disebut dengan Opak. Tapi sekarang disebut PBAK alias Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan.

Jadi, salah satu atribut yang harus dikenakan oleh Maru perempuan ialah tengkuluk dengan berwarna kuning. Tengkuluk yang digunakan oleh teman-teman pun bermacam ragam, ada yang tengkuluk sungguhan (kain batik), ada yang selendang polos, atau bahkan jilbab pasmina.

 

Menurut KBBI, tengkuluk adalah kain penutup kepala. Ada pula yang mengatakan tengkuluk ialah kan penutup kepala yang diruncingkan. Selain berfungsi sebagai salah satu pelengkap busana tradisional, tengkuluk juga biasa digunakan dalam acara formal, pesta adat, kondangin, serta zaman dulu kerap digunakan sebagai pelindung saat di sawah.

Zaman terus berkembang, begitu juga dengan penggunaan tengkuluk. Meski sudah jarang digunakan dihari-hari biasa, tapi tengkuluk tetap eksis dihari-hari tertentu. Seperti hari ulang tahun jambi, hari kartini, biasanya kerap diadakan lomba pemasangan tengkuluk ini. Dan sebagai atribut ketika MOS atau pun OSPEK.

Walau zaman terus berkembang, tengkuluk masih tetap setia menjadi simbol kecantikan dan keluhuran budi wanita Melayu Jambi. Dengan beragamnya pola kain tengkuluk, dari yang sederhana sampai yang lebih dari sederhana, hahaha bisa kita temukan. Tentunya dengan pola yang khas dari Jambi.

Penggunaan tengkuluk dalam bentuk asli ialah dengan melilitkan kain di atas kepala, tanpa menggunakan peniti atau pun jarum, masih sering digunakan oleh orang-orang tua di dusun-dusun yang hendak pergi ke umo.

Cerminan keluhuran budi terlihat pada saat wanita-wanita Jambi hendak keluar rumah mereka tetap akan menutup kepala mereka. Di dalam adat ini mencerminkan kesopanan dan penghormatan terhadap ninik mamak. karena jika wanita yang keluar rumah tanpa menutup kepala pada masa itu di anggap sebagai wanita yang tidak punya kesopanan.

Selain itu cerminan keluhuran budi wanita melayu juga terlihat pada saat menerima tamu lawan jenis ke rumah. Maka wanita empunya rumah belum akan keluar untuk menyambut tamu atau menghidangkan minuman sebelum dia menutup kepalanya minimal dengan melilitkan tengkuluk di atas kepalanya.

Tapi, zaman sekarang kalau ingin tampil lebih trendi dengan tengkuluk bisa banget, kamu bisa mengkreasikan kain tengkuluk sekreatif mungkin sehingga menjadi “old but gold”.

Yah kalo pakai bahasa penyanyi sih, diimprovisasi dan dicover kali ya, hehehe.

Tag:

Komentar

×
×