logo


Ternyata, Merelakan Itu Tidak Mudah, Tapi Tidak Sulit untuk Dicoba!

15 September 2018 - 19:55:41 WIB - Penulis : Redaksi

ILUSTRASI.(Istimewa)


Gita Savana

 

Dalam hidup tidak terlepas dari cobaan. Ada banyak ragam dari cobaan. Ada yang ringan, ada pula yang berat. Ada yang merasa tidak sanggup menjalaninya, ada yang berlapang dada. Padahal sesungguhnya Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya.

Pernah suatu hari, tas kesayangan saya, yang dibeli dari hasil gaji pertama, rusak. Bukan karena ulah saya. Melainkan ulah dari sepupu saya yang super tidak bisa diam, sehingga tas berwarna baby blue itu harus berakhir mengenaskan. Robek dibagian depan dan samping.

Dan tragedi tersebut ketika saya lagi tidak di rumah. Pulang-pulang, melihat si kesayangan (baca: tas) sudah tidak berdaya. Rasanya sama sih seperti melihat mantan pacar yang baru putus, udah jadian sama yang baru. Sakit men! Miris, teriris. Huhu.

Beberapa menit, saya merasa sedih, kesal, marah, pengen nangis, rasanya nano-nano. Mending nano-nano sih, ada manis-manisnya gitu. Lah ini, gak ada sama sekali. Untuk beberapa saat, saya mengabadikan rasa amarah tersebut melalui status di salah satu media sosial.

Setelah beberapa postingan, dan emosi sudah mereda, kemudian saya tersadar. Dari sana, saya dapat mengambil hikmah. Karena memang hidup ini adalah bagaimana kita dapat memetik hikmah dari semua hal yang pernah kita alami. Belajar dari pengalaman--pada nantinya.

Cobaan dari tas yang tidak seberapa saja sudah membuat saya uring-uringan, apa lagi diuji dengan hal lainnya yang lebih berarti. Dan dari situ saya sadar, semua yang ada di dunia ini, yang tengah kita miliki, hanya titipan Ilahi. Sewaktu-waktu jika Dia ingin melakukan sesuatu, ya kita harus siap dan menerima.

Dari situ juga saya belajar merelakan dan bersabar. Tetap tersenyum ketika barang yang paling disayang sudah tidak layak pakai. Mungkin juga ini teguran, untuk tidak terlalu sayang terhadap sesuatu. Semua yang terlalu tidak baik~

Selain itu juga saya teringat dengan salah satu postingan akun dakwah yang mengatakan semua yang kita miliki nantinya akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Bahkan satu buah jarum pentul, harus dipertanggung jawabkan.

Dalam hal ini, saya teringat dengan koleksi tas yang saya punya. Meskipun tidak begitu banyak, dan tidak mahal, tapi ada beberapa.

Dan dari semua tas yang saya punya, hanya beberapa yang saya pakai. Jadi rusaknya slingbag baby blue ini, bisa jadi teguran karena tidak memanfaatkan barang sebaik mungkin, dan bahkan menyia-nyiakannya.

Jadi lebih baik membeli barang seperlunya, jangan sampai membuat barang sedih karena dianggurin. Kita aja pengen diapelin, masa barang malah di anggurinL

Gitu sih intinya, belajar rela dan sabar dari hal kecil. Belajar menghargai barang. Belajar untuk tidak berfoya-foya. Beli barang seperlunya. Kalau sudah rusak, baru diganti. Jangan sampai mubazir, ya kan? Ehehe.

Dan ternyata, jika diambil positifnya (baca: hikmah dan pelajaran), hidup ini indah!

Tag:

Komentar

×
×