logo


Yuk Kenali Perbedaan antara Frustrasi, Stres dan Depresi

13 Agustus 2017 - 13:40:06 WIB - Penulis : Redaksi

ILUSTRASI. (istimewa)


Monalisa

Frustrasi, stres dan depresi.

Sekilas ketiganya tampak sama, bahkan ada yang bilang mereka bertiga sinonim. *bagai pinang dibelah tiga* Namun nyatanya frustasi, stres dan depresi adalah tiga hal yang berbeda bagai bumi dan langit.

Kita mulai dari definisi, menurut WHO  (2003) stres adalah reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan). Sedangkan frustrasi, berasal dari bahasa Latin frustratio, adalah perasaan kecewa atau jengkel akibat terhalang dalam pencapaian tujuan.

Semakin penting tujuannya, semakin besar frustrasi dirasakan. Rasa frustrasi bisa menjurus ke stres. Pengertian depresi yaitu suatu kondisi yang melebihi keadaan sedih. *sedih berat deh bahasa gaulnya*

Penyebab stres sangat umum karena berasal dari luar dan bisa dialami semua orang. Seperti tekanan pekerjaan di kantor, kebisingan, lingkungan baru, ancaman, tugas sekolah, ujian, urusan rumah tangga, ekonomi, dan lain-lain. *khusus mahasiswa tingkat akhir penyebab utamanya : SKRIPSI; dan pertanyaan kapan kawin*

Intinya penyebabnya banyak berasal dari lingkungan dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Gejala stres mencakup perubahan fisik, psikologis dan perilaku. Antara lain seperti sakit kepala, pusing, tekanan darah tinggi, perasaan gugup, takut atau tegang, cemas, mudah marah, mendadak sinis, mual, keringat berlebih, diare, insomnia, perubahan nafsu makan, dan lain-lain.

Sedangkan frustrasi lebih ke kegagalan pencapaian sesuatu. Ketika kita ingin meraih sesuatu namun gagal, itulah frustasi. *seperti gagal mendapatkan hatinya misalnya* Jadi faktor utama frustasi adalah rasa kecewa karena kegagalan diri dalam mencapai sesuatu. Realita yang tidak sesuai ekspektasi.

Intinya frustrasi itu bikin kecewa, kesal lalu marah-marah. Biasanya mahasiswa tingkat akhir banyak yang frustrasi sama dosen pembimbingnya gara-gara skripsinya salah terus, dan itu bikin kecewa lalu mahasiswa akan marah-marah *di belakang tapi*.

Yang terakhir, depresi. Depresi itu semacam perasaan sedih yang parah banget. Lebih parah dari stres dan biasanya menuju gangguan kejiwaan. Namun depresi bisa disembuhkan dengan terapi psikologis, spiritual, maupun bantuan dari orang-orang terdekat.

Bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi.

Menurut Diagnostic and Statistical Manual IV - Text Revision (DSM IV-TR) (American Psychiatric Association, 2000), seseorang menderita gangguan depresi jika mengalami keadaan emosi depresi/tertekan sebagian besar waktu dalam satu hari hampir setiap hari.

Kehilangan minat atau rasa nikmat terhadap semua, atau hampir semua kegiatan sebagian besar waktu dalam satu hari hampir setiap hari, hilangnya berat badan *kaum hawa pasti senang* yang signifikan saat tidak melakukan diet atau bertambahnya berat badan secara signifikan, insomnia, kegelisahan, melambatnya gerakan psikomotorik, perasaan lelah, perasaan tidak berharga, perasaan bersalah, sulit berpikir dan berkonsentrasi, muncul pikiran untuk bunuh diri.

 “Kalau galau Kak? Itu masuk ke mana?”

“Masuk bahasa alay, Dek. Hehehe*

Itulah sekilas perbedaan stres, frustrasi dan depresi. Banyak alternatif cara untuk menghilangkan stres, frustrasi dan depresi. Seperti melalui motivasi, sharing, konseling, curhat, merasa bersyukur dan lain-lain. Namun saya sangat yakin terapi humor adalah yang terbaik.

Intinya jangan sampai kamu jadi penyebab stres atau depresi atau frustrasi bagi orang lain. Cukup diri sendiri aja yang stres. #salamstres

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum UNJA

Komentar

×
×